26/11/08

The last Changes for swing Voters ( Pilihan terakhir bagi massa mengambang )

Apatis, persepsi yang berkembang saat ini. Mungkin itulah salah satu kata yang dapat menggambarkan psikologi politik rakyat Indonesia. Masyarakat tidak peduli terhadap proses politik yang berjalan dan sedang meraba. Pilkada di beberapa daerah dimenangkan Golput. Pada Pilkada Kalsel jumlah Golput sebesar 40 persen, Sumbar 37 persen, Jambi 34 persen, Kepri 46 persen, Banten 40 persen, DKI Jakarta 35 persen, Jabar 33 persen, Jateng 44 persen, Sumut 43 persen. Terakhir Pilkada sementara Jatim 43 persen (Survai LSI). Fenomena ini lebih menegaskan sikap masyarakat yang semakin tidak percaya kepada elit politik, jumlah partai yang membingungkan dan ketidakpastian politik.

Dalam pertarungan politik klasifikasi pemilih dapat dikelompokkan menjadi pertama, kelompok ini tidak akan memilih. kedua, para pendukung setia, dan tiga, dapat diselamatkan atau biasa dikenal dengan massa mengambang (swing voters) yang tidak terikat dengan parpol tertentu. Bagi partai politik sulit untuk menerobos kelompok pertama. Musuh politik dapat dimasukkan ke dalam kelompok ini. Kelompok kedua, sudah aman dan dipastikan selalu memberi dukungan. Yang menjadi tantangan (challenge) tersendiri bagi parpol adalah kelompok ketiga, yaitu massa mengambang.

Massa mengambang dapat dipersepsikan sebagai kelompok massa yang tidak terikat parpol atau calon tertentu atau yang belum menentukan pilihan dalam ajang pemilihan pimpinan daerah atau nasional atau pemilih yang labil di saat-saat terakhir. Di beberapa studi kelompok ini bahkan menduduki porsi terbesar dalam suatu pemilihan. Jadi, salah satu pintu kemenangan politik bagi parpol atau calon pemimpin adalah sebaik parpol atau calon tersebut mampu menggarap massa mengambang ini.

Partai senior dengan pendanaan kuat dan jaringan luas ternyata lemah saat berhadapan dengan fungsi impuls dan idiosinkratik yang kuat, mesin politik menjadi mandul. Banyak cara yang dilakukan parpol untuk mendapatkan porsi dari massa mengambang. Kehadiran artis yang figurnya dikenal masyarakat sangat efektif untuk meraup suara dari massa mengambang. Hanya dengan dengan senyuman simpatik, salaman yang hangat, atau memberi tanda tangan tidak sulit bagi artis untuk dielu-elukan oleh masyarakat. Acara kampanye yang dihadiri kerumunan massa pun menjadi semakin meriah dan memanfaatkan popularitas artis untuk menarik massa.

Massa mengambang di Indonesia sulit didekati dengan rayuan ideologi, program-program partai, dan perdebatan politik yang menjenuhkan. Rakyat sudah jenuh dengan kesusahan hidup. Mereka butuh sesuatu yang melenturkan otot-otot kesengsaraan mereka. Kehadiran artis bagi mereka bagai oase di padang pasir kesulitan ekonomi walaupun sesaat. Langkah pragmatis ini tepat untuk pemilih di Indonesia yang sebagian besar adalah pemilih tidak rasional. Di sisi lain kehadiran artis sebenarnya menunjukkan kegagalan parpol untuk mengangkat kadernya menjadi tokoh yang populer. Parpol seharusnya memiliki strategi yang jitu untuk membuat banyak kadernya dikenal luas oleh masyarakat. Memang untuk hal ini dibutuhkan dana yang tidak sedikit.

Iklan itu berkibar sepanjang Oktober lalu. Bertabur dimana-mana. Koran, majalah, televisi, dan baliho di jalanan. Lakonnya juga rupa-rupa. Dari petani, ilmuwan hingga kaum selebriti Angelina Sondakh. Semua berpekik soal satu hal: pilihlah Partai Demokrat dalam Pemilihan Umum 2009. Berhari-hari iklan itu berkibar-kibar.

Hasilnya, popularitas partai itu melambung. Perolehan suara dalam sejumlah jajak pendapat melonjak. Lihatlah hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia(LSI) yang digelar sejak 26 Oktober hingga 5 November, sesudah iklan itu meramaikan ruang publik. Lembaga itu melakukan survei terhadap 2.197 responden di 33 propinsi. Pertanyaan yang disodorkan: Jika Pemilu digelar sekarang, partai apa yang akan Anda pilih. Hasilnya, Demokrat mendulang 16,8 persen.

Partai yang baru berumur lima tahun itu membenamkan dua jagoan tua: Golkar dan PDI Perjuangan. Golkar dengan sehimpun kekuatan politiknya cuma mengekor di posisi kedua dengan perolehan 15,9 persen. PDI Perjuangan menyusul di posisi ketiga dengan 14,2 persen. Padahal, dalam survei LSI yang digelar Juni lalu, dua partai besar itu sungguh berjaya. PDI Perjuangan mendulang 24,2 persen dan Golkar memperoleh 19,7 persen. Dan Partai Demokrat saat itu cuma satu digit yakni 8,7 persen.

Ketangguhan Golkar dan PDI Perjuangan juga sudah terbukti dalam Pemilu 2004. Si beringin memperoleh 21,58 persen dan si banteng ketaton mendapat 18,53 persen. Lalu apa yang membuat dua partai raksasa itu tiba-tiba nyungsep dan Demokrat berkibar. iklan televisi yang ditabur Demokrat sebagai biang keladinya. Lembaga survei itu, mensurvei swing voters alias massa mengambang.

Kalangan massa mengambang ini mudah dibujuk rayu lewat iklan. Jadi hasil survey itu sangat wajar, apalagi SBY sebagai incumbent iklannya sangat banyak. Hasil rayuan iklan sudah dinikmati partai itu dalam Pemilu 2004. Saat itu jumlah swing voter sekitar 32 persen. Jumlah itulah yang direbut sejumlah partai lewat kampanye dan iklan. Saat itu partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini juga gencar beriklan, gara-gara iklan itu banyak swing voters yang masuk ke PDI Perjuangan dan Partai Demokrat.

Pemilih massa mengambang memang sangat labil dan mudah berpindah-pindah. Hari ini jatuh cinta dengan Partai A karena sikap partai tersebut sesuai dengan keinginannya, tapi besok bisa ke lain hati bila ada yang membuatnya kepincut. Masyarakat Indonesia yang modern dan rasional akan menentukan pilihannya pada detik-detik terakhir menjelang pencoblosan. Sebelum mencoblos, pemilih rasional terlebih dahulu mempertimbangkan banyak hal, termasuk semua wacana yang berkembang dan isu yang beredar. Massa rasional yang disebut sebagai massa mengambang ini cenderung tidak akan memilih incumbent.



Helmi Fasyah

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com
...