09/10/09

Pemerintah Jelmaan "Orba cara baru" dan GOLKAR 2009-2015

Iklim politik dirasakan berubah akan kekuatan yang sudah berkembang dari tahun 2004 sampai saat ini, penjelmaan pemerintah dan tokoh pemimpin yang di anggap kharismatik, terhanyutlah simpatik kepada rakyatnya. Bahasa verbal dan no-verbal yang di bangun olehnya, memberi efek positif baginya dan pemerintahannya. Segala kebijakan, sistem pemerintahan, instrumen pemerintahan baru dll yang dibentuk seakan-akan sebagai penghias. Apalagi pada saat menjelang Pemilu, instrumen pemerintah seakan-akan di force'ir untuk terlihat positif di masyarakat dan media ikut memblow up hal itu.


Pemilu presiden 2009, menjadi tolak ukur percaturan politik akan pembagian kekuasaan yang akan merapat nanti. Pro dan kontra akan hasil perolehan suara yang di menangkan dengan nomer urut 2 (SBY-Boediono), sedangkan no 1 dan 3 kontra akan hasil yang dianggap penuh dengan kecurangan. Hasil suara yang di dapatkan SBY-Boediono amat fenomenal, kantong-kantong suara basis beberapa partai, di dominasi oleh incumbent ini.

Pasca Pilpres, mulai meluap isu-isu sang koalisi di pemerintahan 2009-2014 dan isu oposisi terdengar sunyi. Para elite politik pembesar partai, memulai pergerakannya mendekati kekuasaan yang ada dan meminta "jatah". Menariknya sang kekuasaan ini, pintar menstrategikan ini dan melihat situasi politik dan mengamankan sang oposisi dari tahun ke tahun itu dengan merangkulnya.

Partai senior, sang beringin ini memiliki peran besar akan petumbuhan negara Indonesia. Dari tokoh-tokoh di dalamnya yang mempunyai nama besar dan seluk beluk dahulunya. Maka dari itu transisi pemimpin di tubuh Golkar, menjadi perhatian khusus di masyarakat maupun media yang memblow up Munas Golkar dari masa ke masa nya. Munas V Golkar di tahun 2009, jadi perbincangan sesaat dan mudah di tarik benang merah akan hasil yang dimenangkan Ical dan pembentukan struktur pengurus harian di Golkar. Pengurus harian Golkar :

1. Ketua Dewan Pertimbangan: Akbar Tandjung
2. Ketua Umum: Aburizal Bakrie
3. Wakil Ketua Umum: HR Agung Laksono
4. Wakil Ketua Umum: Theo L Sambuaga
5. Ketua Bidang Kaderisasai: Hafiz Zawawi
6. Ketua Bidang Organisasi dan Daerah: Mahyudin
7. Ketua Bidang Hubungan Eksekutif dan Yudikatif: HM Rusli Zainal [Gub. Riau]
8. Ketua Bidang Hubungan Legislatif dan Lembaga Politik: Priyo Budi Santoso
9. Ketua Bidang Informasi dan Penggalangan Opini: Fuad Mansyur
10. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sumatera: Andi Ahmad Dara
11. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT: Syarif Cicip Sutarjo
12. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Maluku dan Papua: Fredi Latumahina
13. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Kalimantan: Ahmadi Nur Supit
14. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi: Fachri Andi Leluasa
15. Ketua Bidang Perempuan: Ratu Atut Chosyiah [Gub. Banten]
16. Ketua Bidang Pemuda: Yorrys Raweyay
17. Ketua Bidang Pekerja, Tani, dan Nelayan: Yamin Tawari
18. Ketua Bidang Usaha dan Koperasi: Firman Subagyo
19. Ketua Bidang Keagamaan dan Kebudayaan: Hajriyanto Tohari
20. Ketua Bidang Kemahasiswaan dan LSM: Fadel Muhammad
21. Ketua Bidang Kerja Sama Internasional: Iris Indira Munti
22. Ketua Bidang Pemikiran dan Kajian Kebijakan: Rizal Mallarangeng
23. Ketua Bidang Pendidikan: Indra Bambang Utoyo [anaknya UO, bekas Menkeh ORBA]
24. Ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup: Ade Komarudin [orangnya AT]
25. Ketau Bidang Penanganan Kerawanan Sosial: Ponco Sutowo
26. Ketua Bidang Hukum dan HAM: Muladi [orang yang gak diragukan lagi ke-ORBA-annya, bekas Menkeh Orba, Gub. LEMHANAS jadi pengurus partai]

1. Sekjen: Idrus Marham [orangnya AT]
2. Wasekjen Riki Rahmadi
3. Wasekjen Harry Azhar Aziz
4. Wasekjen Musfihin Dahlan
5. Wasekjen Muhidin
6. Wasekjen Ahmad Dolly Kurnia [Bekas Ketum HMI, anak didiknya AT]
7. Wasekjen Titiek Soeharto [anaknya S, ORBA]
8. Wasekjen Mujib Rahmad
9. Wasekjen Nurul Arifin
10. Wasekjen Heppi Bone Zulkarnain [orangnya AT]
11. Wasekjen Hasanuddin Mochdar
12. Wasekjen I Made Sumarjaya Linggih
13. Wasekjen Emmanuel Blegur
14. Wasekjen Oktaviano
15. Wasekjen Leo Nababan
16. Wasekjen Roem Kono

1. Bendara Umum: Setya Novanto
2. Wakil Bendahara Umum: Airlangga Hartarto [anaknya Ir. H, bekas Menperindag Jaman Orba]
3. Wakil Bendahara Umum: Erwin Aksa [anaknya AM, bekas Wkl,. Ketua MPR, ponakannya JK]
4. Wakil Bendahara Umum: Hariara Tambunan
5. Wakil Bendahara Umum: Agus Gumiwang Kartasasmita [adiknya/ponakan GS???]
6. Wakil Bendahara Umum: Suharsoyo
7. Wakil Bendahara Umum: Ridwan Mukti
8. Wakil Bendahara Umum: Bobby Suhardiman [anaknya S, ORBA]
9. Wakil Bendahara Umum: Melchias Mekeng
10. Wakil Bendahara Umum: Tri Hanurita Sudwikatmono [anaknya S, konglomerat Orba, ponakannya si Eyang???]
11. Wakil Bendahara Umum: Mustoko Weni
12. Wakil Bendahara Umum: Bambang Atmanto Wiyogo [anaknya WA, bekas Gub. DKI jaman Orba]
13. Wakil Bendahara Umum: Watty Amir
14. Wakil Bendahara Umum: Hamzah Sangaji [tokoh pemuda]


Tokoh-tokoh pengurus di atas, mencerminkan struktur yang di recycle ulang dengan tokoh senior dan orang-orangnya yang punya kekuasaan di beberapa wilayah.Penyimpulan situasi partai politik Indonesia juga sudah tenggelam akan idealismenya semua organisasi yang mengaspirasikan suara rakyat ini, menjadi sebuah organisasi mesin pencetak pragmatis, materi dan kekuasaan yang sesaat. Golkar sebagai partai senior, telah memberi keringat sang deklarator terdahulu akan idealisme yang sesungguhnya kepada kekuasaan saat ini dan menjadi "kuli" juga mudah di stir. ”Idealisme sudah mati di Partai Golkar. Visi sudah tidak bernilai dibandingkan ”gizi” yang ditebarkan. Golkar telah kehilangan ruh perjuangannya,” ungkap Yuddy.

Partai Golkar perlu mendefinisikan kembali nilai-nilai yang diperjuangkannya. Sejak zaman Orde Baru, Golkar belum berubah. Keputusan politik yang diambil banyak diwarnai rekayasa dan merupakan hasil dari proses tawar-menawar uang. Kemenangan Aburizal di Munas Golkar sesungguhnya merupakan kemenangan antara untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Pendekatan sistemik ini perlu dilakukan Golkar dalam siklus 10-15 tahunan, jangan sekadar siklus 5 tahunan karena hanya akan selalu memulai dari nol dan menghasilkan kekecewaan dari pemilu. Aburizal sebagai ketua umum terpilih untuk tetap memunculkan pesona Golkar sebagai parpol yang menawarkan alternatif meskipun Golkar merapat dengan pemerintah. Tidak heran dengan perolehan suara Tommy ataupun Yuddy karena sejak awal tidak menunjukkan keseriusan sebagai calon alternatif. Sementara persaingan Aburizal dan Paloh sudah terjadi dua tahun sebelumnya.

Kemenangan Aburizal akan membuat Dewan Perwakilan Rakyat tumpul karena Partai Golkar dipastikan akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Apalagi pernyataan Ical sebelumnya bahwa dia akan membawa Partai Golkar bergabung dengan partai pemenang pemilu. Oleh karena itu, peran DPR sebagai pengawas pemerintahan bisa melemah dan tumpul. Tidak ada lagi kekuatan kontrol di DPR karena seluruh partai politik bergabung dalam koalisi partai pendukung presiden terpilih. Kemenangan Ical juga telah mengubah peta politik dan pemerintahan Indonesia. Kekuatan atau peran eksekutif akan lebih dominan dibandingkan dengan legislatif, seperti yang terjadi pada masa Orde Baru.

Sebuah keotoriteran yang terbangun saat ini, penuh dengan tanda tanya dan terselubung keterkaitan-keterkaitannya. Penenggelaman orang-orang yang tidak sejalan dengan itu, mulai terlihat, peran KPK "Antasari dkk" tersandung kasus rekayasa, Prabowo diawal oposisi menjadi koalisi, PDI-P versi Toufik Kemas (Ketua MPR), Kasus Century (Dipertanyakan peran penguasa dan oknum-oknumnya). Percaturan politik 2009-2014 selanjutkan sudah tidak seseru adanya oposisi dan koalisi saling berdebat yang wajarnya demokrasi. Koalisi yang terbangun, membungkam suara-suara ideal hati manusia yang menolak ketidak benaran yang ada. Iklim "Orba cara baru" ini, terprediksi akan terjadi kembali, bila melihat situasi politik yang ada. Apalagi di dalam pembentukan kabinet tanggal 21 Oktober 2009 nanti. walaupun situasi tidak separah orba dahulu, tapi identifikasi akan indikasi itu sudah terlihat secara soft power dan permainan tidak fear.

1 komentar:

Jual Rumah mengatakan...

Selamat kepada panitia Munas golkar yang diadakan di riau...
selamat atas kesuksesannya dalam menyelenggarakan Munas yang sungguh luar biasa...
walaupun ada sedikit insiden kericuhan dalam Munas tersebut.

selamat atas terpilihnya Ical sebagai Ketum Golkar periode 2009 - 2015...
semoga dibawah kepemimpinan ical, golkar bisa lebih menjadi mandiri serta lebih cerdas lagi...
semoga segala kejelekan dimasa lalu segera lenyap...

semoga golkar bisa menjadi partai yang bisa bersaing serta berkompetisi dengan jujur dan bersih...
agar tercipta pemimpin yang bersih dimana masyarakat luas mengharapkan sosok pemimpin yang bisa membawa negeri ini semakin maju dan aman.amin
Rumah Murah

Template by : kendhin x-template.blogspot.com
...